Skip navigation

Gambar

Di suatu perjalanan, saya dengan sahabat setiaku mampir di warung kopi sekitar gunung nona ,adanya pengunjung sebagai calon pembeli harusnya membuat warung kopi itu senang. Tapi yang terjadi tidaklah demikian. Mungkin penjaga warung  tersebut lagi sewot dengan kehidupannya, dia memandang sinis,tidak sopan dan muka “dilipat” cemberut Susana ygbegitu kontras dengan keindahan bukit-bukit di sekitar lembah Gunung Bambapuang. Saya jelas jengkel menerima layanan yang buruk seperti itu. Yang mengherankan, teman saya tetap enjoy, bahkan bersikap sopan kepada penjual tersebut. Orang akhirnya saya bertanya kepada sahabat saya, “Mengapa kamu bersikap sopan kepada penjaga warung  menyebalkan itu?” Sahabat  saya  menjawab, “Mengapa aku harus mengizinkan dia menentukan caraku dalam bertindak?”

Yes! Itulah pointnya! Jangan pernah biarkan orang lain menentukan cara kita bertindak seandainya orang tersebut sedang melakukan hal yang buruk kepada kita. Sayangnya, sering kali kita tidak berbuat demikian. Tindakan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan orang lain kepada kita. Kalau mereka melakukan hal yang buruk, kita akan membalasnya dengan hal yang lebih buruk lagi. Kalau mereka tidak sopan, kita akan lebih tidak sopan lagi. Kalau orang lain pelit terhadap kita, kita yang semula pemurah tiba-tiba jadinya sedemikian pelit kalau harus berurusan dengan orang tersebut.

Harus saya akui,saya perlu belajar banyak terhadap teman saya, saya selalu gagal dalam hal ini, khususnya saat saya berinteraksi dengan orang-orang disekitar saya.Terkadang orang memperlakukan tidak baik , nilai kepuasan akan saya dapatkan bila saya juga memperlakukan orang tersebut sesuai perlakuannya terhadap saya. Sungguh tindakan saya dipengaruhi oleh tindakan orang lain terhadap saya. Di sisi lain, saya bisa berbuat sedemikian baik, santun, dan luar biasa terhadap orang yang juga melakukan hal yang sama kepada saya. Saat saya merenung-renung tentang hal ini, saya jadi malu sendiri. Mengapa tindakan saya harus dipengaruhi oleh orang lain? Mengapa untuk berbuat baik saja, saya harus menunggu diperlakukan dengan baik oleh orang lain dulu? Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda juga punya “penyakit” seperti saya? Jaga suasana hati, jangan biarkan sikap buruk orang lain kepada kita menentukan cara kita bertindak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: