Skip navigation

 

nrhmaaRmQg

– Jika anda menjejakkan kaki di Kota Jakarta cobalah melintasi kawasan Jakarta bagian utara,dan janganlah sungkan untuk singgah ke Masjid Luar Batang. Masjid Luar Batang merupakan salah satu tempat yang memiliki nilai sejarah di Batavia (Jakarta). Masjid yang terletak di Penjaringan, Jakarta Utara ini dikenal hingga seluruh pelosok negara. Sebab, di dalam masjid ini terdapat makam keramat Sayid Hussein bin Abu Bakar Alaydrus dan muridnya.

Di penghujung tahun 2006, saat itu untuk pertama kalinya saya menjejakkan kaki di Masjid Kramat Luar Batang, jadilah pengalaman spritual yang tak terlupakan rasa penasaran  selama ini akhirnya terjawab juga walaupun moment tidak tepat dengan suasana di Masjid Kramat Luar Batang, info yang saya dengar  memang ada saat-saat tertentu dimana ada acara spritual khusus di lingkungan Masjid.

Memang banyak perbedaan suasana dengan keadaan Masjid lain, yang pasti dan jelas sekali perbedaanya dimana air untuk wudhu terasa asin,seperti air laut.

Sejauh mata memandang suasana di Masjid keramat ini banyak didatangkan peziarah dari seluruh Indonesia, maupun mancanegara. Mereka datang hanya untuk menunaikan ibadah sholat dan membaca doa di keramat. Bahkan disana sudah disiapkan tempat khusus untuk Jama’ah yang ingin tinggal untuk beberapa hari.

Cerita selajutnya seperti yang saya kutip dari penjelasan di salah satu link……..infonya menyampaikan bahwa saat-saat menjelang Ramadan jumlah peziarah yang datang banyak sekali. Mereka datang dari berbagai kota di seluruh Indonesia, bahkan hingga mancanegara. Waktu itu sampai orang dari Belanda ziarah kesini. Mereka memang muslim,” kata salah satu pengurus masjid,

Berbicara mengenai sejarah Masjid Luar Batang ini memang sedikit membingungkan. Sebab, banyak cerita berbeda yang keluar dari berbagai sumber. “Menurut versi yang kita tahu, dulu tanah ini kan tanah milik Belanda yang diberikan kepada Habib Hussein. Karena kan banyak cerita yang menurut orang begini, atau begitu lah,” ujarnya.

Seorang turis asal Tionghoa menulis bahwa tahun 1736 dia meninggalkan Kota Batavia dari Sheng Mu Gang atau Pelabuhan Makam Keramat, saat ini dikenal dengan Pelabuhan Sunda Kelapa. Di lokasi tersebut terdapat makam yang dianggap keramat di daerah Pelabuhan Batavia.

Pada 1916, di atas pintu masjid tercatat bahwa gedung masjid selesai digarap pada 20 Murharam 1152 H atau 29 April 1739. Masjid ini kurang berkiblat, sama halnya dengan Masjid Kebon Sirih dan Masjid Cikini. Oleh karena itu, ada seorang penulis, Abubakar Atjeh, yang menganggap bahwa dulunya ruang masjid ini adalah bekas rumah kediaman orang, kemudian digunakan sebagai mushola atau masjid.

Dari beberapa cerita mengenai masjid tersebut, masih menyisakan pertanyaan-pertanyaan tentang kebenaran yang pasti. Karena cerita asal-usul makam keramat merupakan cerita turun menurun yang datanya  masih kurang lengkap. Artinya, sumber-sumber yang mengetahui pasti pada zamannya itu tidak lengkap.

Maka dari itu, pengurus masjid enggan berkomentar mengenai sejarah masjid dan makam keramat tersebut lantaran takut salah memberikan informasi. Terkenalnya masjid dan makam keramat ini dalam nilai sejarah, menjadi faktor utama yang mengundang datangnya peziarah. Dari masa ke masa, masjid ini sudah beberapa kali direnovasi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: