Skip navigation

 

DSC03411Hampir separuh perjalan hidup menapaki usia dewasaku, ku lewati di sesaknya Ibu Kota Jakarta dengan kejam dan kelembutannya . Namun apapun tawaran yang diberikan tidaklah sebanding dengan rasa yang diberikan  oleh kampung terpencil di kaki gunung Latimojong,  kira-kira 250 kilometer dari pusat kota Makassar, jauh ya.  Sebuah kampung terpencil yang selalu menawarkan ke elokan dan suasana damainya, di tempat ini pula menjadi pintu pertama bagiku mengenal kuasa-Nya , dan pada saatnya sejuta cerita dan segudang kenangan indah terus mengalir di sana .

Saat ini, tentu saja kampungku telah banyak berubah seiring perkembangan zaman dan berlalunya waktu. Keadaan terus tergerus oleh waktu satu persatu telah berubah masyarakat dan alamnya tidak seelok dulu, hawa disekitarnya  tak sesejuk dahulu. Air sungai tempat aku dan kawan-kawan mencari ikan dan berenang sehabis sekolah mulai mengering saat musim kemarau airnyapun tak sejernih dulu lagi lantaran bercampur lumpur erosi saat musim hujan di hulu. Burung Bangau yang tiap pagi lewat depan rumahku, kini semakin langka. Pohon-pohon tua yang rindang dan terkadang menakutkan sudah banyak ditebang untuk bahan bangunan. Sawah-sawah penghasil beras ketan ajaib (pulu’mandoti) yang terhampar luas dengan teras-terasnya bak tangga menuju puncak Latimojong mulai krisis air disaat musim kemarau.

Walaupun kampungku tak seperti dulu lagi, pengabdianku  akan kampung halaman tak pernah bisa hilang. Ada kenangan indah masa silam yang takan bisa dilupakan. Saat berlarian disepanjang pematang sawah sambil mendorong ban motor bekas dan selalu dihiasi canda tawa khas anak desa. Saat bermain perang-perangan dengan senjata dari pohon bambu. Saat bermain bola di tengah genangan lumpur. Saat mandi di kali  dan saat bermain petak umpet di bawah temaram sinar bulan purnama.

Kampungku itu pun tak mungkin aku lupakan sampai akhir hayat dikandung badan. Karena disanalah aku pertama kali mengenal makna cinta sejati. Cinta yang hanya memberi dan tak harap kembali seperti sinar mentari. Cinta yang tak lekang dimakan jaman, tergerus waktu. Adalah cinta orang tua yang kini sudah semakin renta. Yang dalam setiap desah nafasnya, detak jantungnya, tutur katanya adalah do’a tanpa jeda.

Ya, ..walau pemandangan alamnya sudah semakin tergerus masa dan tak seindah dulu, air sungainya tak sejernih dulu, hawa udaranya tak sesejuk dulu, semangat gotong royongnya tak sekuat dulu, kampungku selalu aku rindu. Karena masih ada kedamaian dan kebahagiaan di sana orang-orangnya tetap seramah dulu, masih ada kabut pagi, gemercik air pancuran, cicit burung, nyanyian katak, yang dapat mengingatkan kembali akan kenangan indah masa silam.  Dan pada saat ini goresan Tuhan menuntunku untuk kembali mengabdikan jiwa raga di kampung halamanku, semoga hati yang tulus,kesederhanaan hidup tetap menyertai dalam hembusan nafasku, hingga saatnya sepenggal atau mungkin sejuta asa dari wajah-wajah polos penghuni kampungku dapat ter wujudkan. Amin~ ( Gandhenk,2007)

Kampungku Selalu Aku Rindu…………

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: