Skip navigation

tafakur
Oleh : M. Nuzul Nurulhuda, S.Kom.I.

PERGESERAN waktu amat tidak terasa. Banyak sudah kejadian yang kita lewati. Kesedihan dan kebahagiaan bergantian mengisi perjalanan hidup kita. Lalu apa yang harus kita lakukan dalam menyikapinya? Setidaknya ada tiga hal yang dapat kita lakukan, yakni bersyukur, bermuhasabah, dan bertafakur.

Pertama, bersyukur. Kita pantas bersyukur atas berbagai nikmat yang Allah berikan. Nikmat kesehatan, umur yang panjang, juga nikmat iman dan Islam. Rezeki yang kita dapatkan begitu melimpah, bukan hanya pangkat atau jabatan, juga uang, tetapi kesehatan, keluarga, termasuk anak saleh.

Sesungguhnya kita tidak akan mampu menghitung berapa banyak nikmat yang telah Allah berikan. Allah SWT berfirman, “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya” (An-Nahl: 18).

Dengan bersyukur, Allah akan menambah nikmat yang kita peroleh. Sebaliknya, apabila kita ingkar terhadap nikmat Allah, maka Allah akan memberikan azab. Firman-Nya, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Ibrahim: 7).

Mari kita berusaha mengaktualisasikan rasa syukur kita dari hal-hal sederhana. Aktivitas sekecil apa pun usahakan untuk selalu dilakukan sesuai aturan-Nya. Kerusakan yang timbul di sekeliling kita, tidak lain karena sikap kufur nikmat sebagian dari kita.

Kedua, bermuhasabah. Patutlah kiranya kita mengevaluasi diri. Sejauh mana perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari. Apakah hidup kita selalu diisi ibadah atau sebaliknya kita sering lalai dan malas untuk taat pada perintah-Nya.

Pentingnya bermuhasabah adalah agar kita bisa mengambil hikmah dari laku perbuatan kita, baik yang sifatnya hablum minallah ataupun hablum minannas. Sehingga kita dapat meningkatkan kualitas diri. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah orang yang beruntung. Siapa yang hari ini keadaannya sama dengan kemarin maka dia rugi. Siapa yang keadaan hari ini lebih buruk dari kemarin, maka dia celaka” (Alhadis).

Menurut Syekh Syihabuddin Mahmud bin Abdullah Al-Husaini Al-Alusi, setiap perbuatan manusia yang dilakukan pada masa lalu, mencerminkan perbuatannya untuk persiapan akhirat kelak. “Karena hidup di dunia bagaikan satu hari dan keesokan harinya merupakan hari akhirat, merugilah manusia yang tidak mengetahui tujuan utamanya”.

Ketiga, bertafakur. Setelah bersyukur dan bermuhasabah, mari kita berpikir mengenai apa yang perlu kita perbuat ke depannya. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Hasyr: 18).

Sebagai seorang muslim yang meyakini adanya akhirat, yang perlu kita lakukan adalah peningkatan kualitas ketakwaan. Sebab takwa merupakan sebaik-baiknya bekal hidup. Firman-Nya, “Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal” (Al-Baqarah: 197). Wallahu’alam.

sumber :http://www.klik-galamedia.com

Iklan

2 Comments

  1. Artikel yang bermanfaat sekali buat saya pribadi mas, terimakasih sudah mau berbagi sedikit ilmu.. 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: