Skip navigation

Tag Archives: puisi

Di dasar relung jiwaku Bergema nyanyian tanpa kata; sebuah lagu yang bernafas di dalam benih hatiku, Yang tiada dicairkan oleh tinta di atas lembar kulit ; ia meneguk rasa kasihku dalam jubah yg nipis kainnya, dan mengalirkan sayang, Namun bukan menyentuh bibirku.

Betapa dapat aku mendesahkannya?
Aku bimbang dia mungkin berbaur dengan kerajaan fana
Kepada siapa aku akan menyanyikannya?
Dia tersimpan dalam relung sukmaku
Karena aku risau, dia akan terhempas
Di telinga pendengaran yang keras.

Pabila kutatap penglihatan batinku
Nampak di dalamnya bayangan dari bayangannya,
Dan pabila kusentuh hujung jemariku
Terasa getaran kehadirannya.

Perilaku tanganku saksi bisu kehadirannya, Bagai danau tenang yang memantulkan cahaya bintang-bintang bergemerlapan.
Air mataku menandai sendu Bagai titik-titik embun syahdu
Yang membongkarkan rahasia mawar layu.
Lagu itu digubah oleh renungan,
Dan dikumandangkan oleh kesunyian,
Dan disingkirkan oleh kebisingan,
Dan dilipat oleh kebenaran,
Dan diulang-ulang oleh mimpi dan bayangan, Dan difahami oleh cinta,
Dan disembunyikan oleh kesadaran siang
Dan dinyanyikan oleh sukma malam.

Lagu itu lagu kasih-sayang,
Gerangan ‘Kain’ atau ‘Esau’ manakah yang mampu membawakannya berkumandang? Nyanyian itu lebih semerbak wangi daripada melati:
Suara manakah yang dapat menangkapnya? Kidung itu tersembunyi bagai rahasia perawan suci,
Getar nada mana yang mampu menggoyahnya?

Siapa berani menyatukan debur ombak samudra dengan kicau bening burung malam?
Siapa yang berani membandingkan deru alam, Dengan desah bayi yang nyenyak di buaian? Siapa berani memecah sunyi dan lantang menuturkan bisikan sanubari
Yang hanya terungkap oleh hati?

Insan mana yang berani melagukan kidung suci Tuhan?

Iklan

tafakur
Wahai langit …. 
Tanyakan pada-Nya Mengapa Dia menciptakan sekeping hati ini …. 
Begitu rapuh dan mudah terluka …. 
Saat dihadapkan dengan duri-duri cinta Begitu kuat dan kokoh …. 
Saat berselimut cinta dan asa …. 
Mengapa Dia menciptakan rasa sayang dan rindu di dalam hati ini …. 
Mengisi kekosongan di dalamnya Menyisakan kegelisahan akan sosok sang kekasih Menimbulkan segudang tanya ….
Menghimpun berjuta asa …. 
Memberikan semangat juga meninggalkan kepedihan yang tak terkira …. 
Mengapa Dia menciptakan kegelisahan dalam jiwa …. 
Menghimpit bayangan …. 
Menyesakkan dada …. 
Tak berdaya melawan gejolak yang menerpa …. 
Wahai ilalang …. 
Pernahkan kau merasakan rasa yang begitu menyiksa ini ? Mengapa kau hanya diam ….
Katakan padaku …. 
Sebuah kata yang bisa meredam gejolak jiwa ini …. 
Sesuatu yang dibutuhkan raga ini …. 
Sebagai pengobat rasa sakit yang tak terkendali ….
 Desiran angin membuat berisik dirimu …. 
Seolah ada sesuatu yang kau ucapkan padaku …. 
Aku tak tahu apa maksudmu …. 
Hanya menduga …. 
Bisikanmu mengatakan ada seseorang di balik bukit sana …. 
Menunggumu dengan setia …. 
Menghargai apa arti cinta ….
Hati terjatuh dan terluka ….
Merobek malam menoreh seribu duka …. 
Kukepakkan sayap – sayap patahku …. 
Mengikuti hembusan angin yang berlalu …. 
Menancapkan rindu …. 
Di sudut hati yang beku …. 
Dia retak, hancur bagai serpihan cermin …. 
Berserakan …. 
Sebelum hilang diterpa angin …. 
Sambil terduduk lemah Ku coba kembali mengais sisa hati …. 
Bercampur baur dengan debu …. 
Ingin ku rengkuh ….
Ku gapai kepingan di sudut hati …. 
Hanya bayangan yang ku dapat …. 
Ia menghilang saat mentari turun dari peraduannya …. 
Tak sanggup kukepakkan kembali sayap ini …. 
Ia telah patah …. 
Tertusuk duri yang tajam …. 
Hanya bisa meratap …. 
Meringis …. 
Mencoba menggapai sebuah pegangan …. 

sumber : puisidansyair

kuutus bebutir hujan yang menyinggahi kotamu siang ini untuk menyentuhmu, tuan, setelah jarak tak memungkinkan kita bertaut dalam peluk–

by

219442799_4d687c9dc5

dan hujan masih setia kembali
menarikan rintik rintik nyeri
Read More »

rain1-1

Nyanyian Hujan
berdendang kala mata terpejam
tiada bayang yang serupa
ketika tetesnya membasahi wajahku
melainkan bayang mu
yang tlah melekat di otakku

ku menunggu terlalu lama
berlalu malam terbuang tanpa mimpi
seutas harap berendakan rindu
menjadi jubah lamunan
bermahkotakan salam yang tiada terbalas

dan bila ku masih harus bersabar
kan ku nantikan engkau
hingga hujan jadi kemarau

karya: Sunnie/Niah

Maratua

Malam malam indah membangunkan tidurmu ..
Menyanjungkan kekagumanmu oleh pujian pujian untuk Nya ..
Membuka mata mata yang terpesona oleh ketakjuban tanpa bahasa ..
Menyandarkan kedamaian yang memikat .. tanpa keraguan ..

Bak gemerlapnya kunang kunang yang beterbangan ..
Menyebar diantara penjuru pandangan mata ..
Temaram dalam gelap tanpa suara ..
Tanpa gemuruh angin yang berbisik .. dingin ..

Nun, di sana ..
Langit seakan menemani, ..
Memayungi sepi yang memanjang oleh waktu ..
Menyejukkan lelah yang panjang oleh siang ..
Oleh peluh yang perlahan pergi sendiri ..

Indahnya malam bila kau jenguk ..
Sesaat menyendiri .. di bibir jendela yang membingkai mu ..
Hanya ada jangkrik jangkrik bercengkrama tentang dunianya .. tentang cinta ..
Tanpa debat kuasa, separuh keinginan menguasai dunia ..

Adalah malam yang membuat alam tertegun ..
Melamunkan sesaat kebisingan hari yang telah dilalui ..
Dan kini saatnya bercermin, menilai diri ..
Sembari melepaskan sisa sisa kesombongan pagi, ..
Yang kelak akan berujung malam kembali ..

Selamat tidur, kawan ..

%d blogger menyukai ini: